19 19

  • By Ismarianto
  • Telah Di Baca Sebanyak169

Ceramah Aplikasi Asap Cair Tempurung Kelapa Untuk Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Kakao Dikanagarian Aie Tajun Kec. Lubuk Alung Kabupaten Padang Pariaman pada tanggal 4 Agustus 2012

 
I Ketut Budaraga
Yulfi Desi
 
Staf Pengajar Fakultas Pertanian Universitas Ekasakti
Email:ketut_budaraga@yahoo.com
HP : 08197540628/081283837468
 
Pendahuluan
            Tanaman kakao dapat diserang oleh hama dan penyakit tanaman, diantaranya adalah hama penggerek buah kakao yang disebabkan  oleh Conopomorpha cramerella, kepik penghisap buah kakao disebabkan Helopeltis antonii, dan penyakit busuk buah kakao disebabkan Phytopthora palmivora dll.
Hama penggerek buah kakao (PBK) yang disebabkan Conopomorpha cramerella Snell merupakan hama utama pada tanaman kakao. Serangga dewasa hama PBK berupa ngengat (moth), termasuk ordo Lepidoptera yang berukuran kecil (panjang ±7 mm). Ngengat berwarna coklat dengan pola zig-zag berwarna putih sepanjang sayap depan. Ukuran antena lebih panjang dari tubuhnya dan mengarah ke belakang. Ngengat aktif terbang, kawin dan meletakkan telur pada malam hari. Pada siang hari ngengat bersembunyi pada tempat yang terlindung dari sinar matahari, yaitu di cabang-cabang horizontal. Ngengat betina meletakkan telur hanya pada permukaan buah kakao. Buah kakao yang disukai adalah yang mempunyai alur dalam dan panjangnya lebih dari 9 cm. Lama hidup ngengat betina 5 – 8 hari dan setiap betina mampu menghasilkan telur sebanyak 100 – 200 butir.  Telur berbentuk oval dengan panjang 0,45 – 0,50 mm, lebar 0,25 – 0,30 mm, pipih dan berwarna orange pada saat diletakkan (Sulistiowati, 1997).
Larva yang baru menetas berwarna putih transparan dengan panjang ±1 mm. Larva langsung menggerek ke dalam buah dengan memakan kulit buah, daging buah dan saluran makanan ke biji (plasenta). Lama stadium larva 14 –18 hari, terdiri atas 4 – 6
Materi ini Disampaikan Pada Acara Pengabdian kepada Masyarakat  dikebun Kelompok Petani Kakao Dikanagarian Aie Tajun Kec. Lubuk Alung Kabupaten Padang Pariaman  pada tanggal 4 Agustus 2012
instar. Pada pertumbuhan penuh panjangnya mencapai 12 mm berwarna putih kotor sampai hijau muda. Menjelang berkepompong larva membuat lubang keluar (diameter 1 mm) pada kulit buah. Sebelum menjadi kepompong larva membentuk kokon. Kepompong dapat melekat pada buah, daun, serasah kakao, cabang, ranting, kotak atau karung tempat buah, bahkan kendaraan yang digunakan untuk mengangkut hasil panen. Kokon berbentuk oval berwarna putih kekuningan, pupa berwarna coklat, lama stadium kepompong 5 – 8 hari.
Lebih lanjut Sulistyowati (1997) menyatakan bahwa buah kakao yang terserang PBK umumnya menunjukkan gejala masak lebih awal, yaitu belang kuning hijau atau kuning jingga. Buah yang terserang dapat berkembang secara normal sampai masak, tetapi pada saat dibelah akan tampak biji yang saling melekat dan berwarna kehitaman. Serangan PBK yang terjadi pada saat buah masih muda akan mengakibatkan kerusakan yang cukup berat karena biji kakao melekat kuat pada kulit buah dan biji saling melekat satu sama lain. Biji tidak berkembang sehingga ukurannya menjadi kecil dan tidak bernas (keriput), sehingga akan berpengaruh terhadap kuantitas dan kualitasnya. Hasil survai oleh Puslit Kopi dan Kakao menunjukkan bahwa serangan PBK menyebabkan kehilangan produksi hingga 80%.
Gambar 1. Gejala buah kakao yang terserang hama penggerek buah kakao (PBK)
Menurut Depparaba (2002) beberapa usaha penanggulangan yang dipadukan dengan kebiasaan petani yang dapat dilakukan adalah : 1) melakukan panen lebih awal 5-7 hari, 2) panen semua buah menjelang panen raya 1-2 bln, 3) membersihkan sarasah, pemangkasan cabang harizontal, 4) membunuh kutu putih, kutu hijau, dan Aphis sp, 5) menghindari pestisida, dan 6) mengisolasi lahan kakao dengan barrier berjarak 30 m. Sedangkan standar operasinal pengendalian (SOP) PBK menurut Pusat Penelitian Kakao dan Kopi Indonesia, adalah : 1) kultur teknis meliputi pamangkasan, pemupukan, 2) sering melakukan panen, 3) sanitasi, 4) penyemprotan dengan insektisida, dan 5) penyarungan buah.
Untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku petani dalam pengendalian hama PBK hal yang perlu diperhatikan adalah mengintensifkan sosialisasi/penyuluhan tentang metode pengendalian hama PBK dengan pendekatan PHT disertai dengan praktek lapang atau disertai dengan pengujian langsung di lapangan, agar petani dapat langsung melihat hasilnya (Suharyanto dkk., 2007). Terkait dengan cara pengendalian dan penanggulangan serta SOP yang telah ditetapkan oleh Pusat Penelitian Kakao dan Kopi Indonesia tersebut, maka akan dilakukan usaha pengendalian dengan memanfaatkan bahan dari alam yakni liquid smoke (asap cair yang berasal dari tempurung kelapa), yakni tidak menggunakan insektisida sintetis melainkan bahan alam yang bersifat sebagai insektisida. Asap cair  ini mempunyai sifat sebagai antibakteri, anti jamur, sebagai pengendali hama dan penyakit karena mempunyai bau yang khas karena berasal dari hasil pirolisis tempurung kelapa lewat proses kondensasi sehingga menghasilkan suatu cairan (Darmadji,2008).   
 
Metodologi Pengabdian
Pengabdian ini dilakukan pada lahan petani yang telah terdapat tanaman kakao didaerah Kanagarian Aie  Tajun Kecamatan Lubuk Alung Kabupaten Padang Pariaman  yang berumur kurang lebih 3-4 tahun.  Dosis penggunaan asap cair digunakan mulai 10 ml/liter, 15 ml/liter dan 20 ml/liter dicampur  merata dengan air sehingga homogen. Penyemprotan liquid smoke dilakukan menggunakan knapsack spayer dengan interval penyemprotan 1 kali seminggu atau disesuaikan dengan aroma asap yang masih tertinggal pada buah kakao. Penyemprotan dilakukan sekitar jam 09.00 pagi atau sore hari, hindari penyemprotan ketika hari hujan. Kelompok tanaman yang akan diamati (O) ditetapkan 3 pohon kakao yang berdekatan mengikuti gambar dibawah ini. Dengan demikian terdapat 12 pohon kakao pada setiap kebun.
 
x   x  x  x  x  O  x  x  x  x  x
x  x  x  x  x  x  x  x  x  x  x
O  x  x  x  x  x  x  x  O  x
x  x  x  x  x  x  x  x  x  x  x
x  x  x  x  x  O x  x  x  x  x 
 
 
 
 
 
 
Gambar 1. Pengambilan sampel kelompok tanaman yang akan diamati.
Persentase buah terserang atau persentase kerusakan biji dan kehilangan hasil dihitung menggunakan metode Mumford (1986) sebagai berikut : Buah kakao yang dipanen dikelompokkan dalam 4 kelompok yaitu :
1. Buah kelompok A         : Bebas serangan PBK (normal)
2. Buah kelompok B         : Buah yang kerusakan biji < 10% (serangan ringan)
3. Buah kelompok C         : Buah yang tingkat kerusakan biji 10 - 50% (serangan   
                                            sedang)
4. Buah kelompok D         : Buah yang tingkat kerusakan biji > 50% (serangan berat).
 
Setiap kelas buah dilakukan penetapan indeks buah (Pod value) yaitu jumlah buah per 1 (satu) kg biji kering (kadar air + 7%).
<>(i)
 
                åB + åC + åD
Y  =  ------------------------------  x 100%
            åA + åB + åC + åD
     
 
 
 
(ii) Kehilangan hasil dihitung dengan rumus :
 
 
 
        Potensi Produksi - PRiel
Z  =  --------------------------------  x 100%
              Potensi Produksi
 
   Potensi produksi  =  Jumlah seluruh b
 
Potensi produksi adalah jumlah seluruh buah dipanen.
PRiel  dihitung menggunakan rumus :
 
 
 
                åA     åB +    åD      åD
PRiel  =    ------ + ------+  -------+ ------  x 100%
                IA      IB         IC        ID
 
 
 
 
 
Keterangan :
I  =  (Indeks buah) yaitu jumlah buah dalam satu kilogram biji kakao kering
         kadar air 7%  (buah/kg) sesuai masing-masing kelompok buah
 
          Dari data diatas masyarakat akan bisa melihat dosis pemakaian asap cair terbaik untuk aplikasi pengendalian Hama dan Penyakit pada tanaman kakao.